BANYUWANGI, narasibanyuwangi.net – Momen flashback itu masih lekat di ingatan keluarga besar Rumah Kebangsaan Banyuwangi (RK) Banyuwangi. Saat pertama kali berkunjung dan berdialog di RK, Kombes Pol. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., yang kala itu baru menjabat Kapolresta Banyuwangi, mendapat pertanyaan lugas dari Hakim Said, S.H., Founder sekaligus Ketua RK: datang ke Banyuwangi ini mencari poin atau koin?
Jawabannya singkat dan tegas.
“Saya masuk dan berdinas di Banyuwangi bukan untuk mencari poin atau koin. Saya datang untuk pengabdian,” tegas Rama Samtama Putra.
Selama satu tahun tiga bulan masa kepemimpinannya, pernyataan itu tidak berhenti sebagai jargon awal jabatan. Itu dibuktikan lewat kerja nyata, yang jejaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Rama Samtama Putra, stabilitas kamtibmas Banyuwangi relatif terjaga di tengah tingginya dinamika sosial, pariwisata, dan mobilitas masyarakat. Sejumlah langkah strategis dijalankan, antara lain penguatan pendekatan humanis kepolisian melalui dialog rutin dengan tokoh agama, tokoh adat, pemuda, dan organisasi kemasyarakatan guna meredam potensi konflik sejak dini. Respons cepat aduan masyarakat juga menjadi perhatian, baik melalui layanan kepolisian langsung maupun kanal pengaduan berbasis digital seperti WA Wadul Kapolresta.
Pengamanan berbagai kegiatan skala besar dan agenda publik, mulai dari event budaya, keagamaan, hingga pariwisata, berjalan aman dan kondusif. Sinergi lintas sektor dengan Pemkab Banyuwangi, TNI, serta elemen masyarakat sipil terus diperkuat sebagai fondasi menjaga ketertiban dan stabilitas daerah.
Pengabdian tersebut tidak hanya dirasakan dalam konteks keamanan dan pelayanan publik, tetapi juga memperoleh pengakuan kultural. Rumah Kebangsaan secara khusus menyelenggarakan apresiasi dari tetua adat, budayawan, dan masyarakat Osing kepada Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol. Dr. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H. beserta istri, Ny. Nova Rama Samtama Putra, selaku Ketua Bhayangkari Cabang Kota Banyuwangi. Apresiasi tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan atas kepemimpinan yang dinilai menghargai nilai-nilai lokal, menjaga harmoni sosial, serta membangun relasi yang humanis antara kepolisian, Bhayangkari, dan masyarakat adat Osing.
Pada aspek kelembagaan, Rama Samtama Putra mendorong penguatan kualitas pelayanan publik dan konsistensi reformasi birokrasi. Polresta Banyuwangi yang sebelumnya telah meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) tidak berhenti pada capaian tersebut.

Di masa kepemimpinannya, dilakukan langkah lanjutan berupa pembenahan standar pelayanan berbasis transparansi dan akuntabilitas, penguatan pengawasan internal, penanaman budaya kerja berintegritas, serta peningkatan kualitas pelayanan yang berorientasi pada kepuasan masyarakat.
Seluruh ikhtiar tersebut diarahkan sebagai bagian dari proses dan penantian penilaian Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), sebuah target institusional yang membutuhkan konsistensi, bukan sekadar simbol.
Sebagai perwira Polri yang baru saja meraih gelar Doktor Hukum dari Universitas Trisakti Jakarta, Rama Samtama Putra dinilai mampu memadukan ketegasan hukum dengan kepekaan sosial. Pendekatan akademik dan praktik lapangan berjalan beriringan.
Hakim Said menilai, sejak awal komitmen itu telah diuji dan dijawab dengan konsistensi.
“Pertanyaan ‘poin atau koin’ itu bukan basa-basi. Dan jawabannya terbukti. Selama satu tahun tiga bulan, pengabdian beliau terasa nyata. Kamtibmas terjaga, komunikasi dengan masyarakat hidup, dan institusi berjalan dengan arah yang jelas,” ujar Hakim Said.
Ia juga menyoroti keseriusan Rama Samtama Putra dalam menjaga marwah institusi.
“Beliau tidak sibuk membangun citra, tapi membangun sistem. Termasuk upaya serius mendorong Polresta Banyuwangi naik kelas dari WBK menuju WBBM. Itu kerja sunyi, tapi dampaknya besar,” tambahnya.
Mutasi dan promosi Kombes Pol. Dr. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H. ke jabatan Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Papua dinilai sebagai bentuk kepercayaan institusi atas rekam jejak, integritas, dan kapasitas kepemimpinannya.
Di Banyuwangi, ia meninggalkan satu pesan sederhana yang teruji oleh waktu: bahwa pengabdian tidak diukur dari panggung, melainkan dari dampak nyata. Dan pertanyaan “poin atau koin?” telah dijawab dengan kerja, bukan kata.










