Foto: Remas Baitul Salam Dusun Krajan Desa Sraten ikut karnaval konsep masyarakat di tahun 70 an. (Doc: Rony)
BANYUWANGI – Suasana Desa Sraten, Kecamatan Cluring, mendadak seperti kembali ke masa 70-an. Karnaval tempo dulu yang digelar di jalan desa sepanjang 3 kilometer itu menghadirkan nuansa klasik penuh kesederhanaan, namun sarat makna sejarah dan budaya.
Mengusung semangat karnaval 1979, salah satu peserta dari Remas Baitul Salam menampilkan gaya parade khas era 70-an yang identik dengan kostum sederhana, kreativitas manual, serta tema perjuangan bangsa. Tak hanya sekedar hiburan, karnaval ini menjadi panggung untuk mengenang sejarah, menumbuhkan nasionalisme, sekaligus memperkuat ikatan sosial warga.

Ketua grup karnaval tempo dulu, Samsul Arifin, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk upaya melestarikan tradisi.
“Kami ingin nguri-nguri jaman dulu dengan kesederhanaan, tapi tetap menjaga budaya dan silaturahim. Kami ikut karnaval ini dengan konsep berdoa untuk bangsa, negara, dan para pejuang yang telah gugur membela kemerdekaan,” ujarnya.
Dalam parade tersebut, peserta berjalan sambil sesekali berhenti berdoa. Mereka membawa tempayan berisi dupa, menyebarkan aroma semerbak yang membuat warga yang menyaksikan terhanyut dalam suasana khidmat.
Karnaval melibatkan sejumlah sekolah dasar (SD dan MI) serta masyarakat Desa Sraten. Suasana meriah berpadu dengan kesan religius, membuat perayaan HUT RI ke-80 ini terasa berbeda dan menyentuh hati.
Sementara itu, di kesempatan berbeda, Ketua Pelaksana kegiatan salah satu grup karnaval sekaligus Ketua Remaja Masjid (Remas) Baitul Salam Dusun Krajan menjelaskan, karnaval ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan.
“Hari ini kita menggelar HUT RI ke-80. Semoga masyarakat Indonesia tetap bersatu dan selalu nguri-nguri tradisi serta budaya bangsa,” katanya.

Karnaval tempo dulu di Sraten tak hanya mengingatkan publik akan meriahnya parade klasik tahun 1970 an, tetapi juga menegaskan kembali arti kemerdekaan: perjuangan, doa, persatuan, dan semangat menjaga budaya lokal yang diwariskan. (Rony//NB)










