Foto: Ketua Perkumpulan Pendopo Semar Nusantara, Uny Saputra. (Doc.Ron).
BANYUWANGI – Sejarah bukan sekedar catatan masa lalu, melainkan cermin perjalanan panjang sebuah bangsa. Salah satu bab penting dalam sejarah Indonesia adalah hadirnya VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie), perusahaan dagang Belanda yang resmi berdiri pada 20 Maret 1602.
Didirikan dengan modal awal 6,5 juta gulden, VOC mendapat hak istimewa dari pemerintah Belanda untuk berdagang, berperang, membuat perjanjian, hingga mendirikan koloni di Hindia Timur selama 21 tahun. Kehadiran VOC tidak lepas dari ambisi Belanda merebut dominasi perdagangan rempah-rempah dari Portugis dan Spanyol, yang saat itu menguasai jalur perdagangan dunia.
Dengan kekuatan diplomasi, monopoli, hingga kekerasan militer, VOC berhasil menguasai perdagangan cengkih, pala, lada, dan kayu manis di kepulauan Indonesia. Pada puncak kejayaannya, VOC bahkan diakui sebagai salah satu perusahaan dagang terbesar dan terkuat di dunia pada abad ke-17 dan ke-18.
Namun, di balik catatan sejarah tersebut, bangsa Nusantara sejatinya tengah menanggung luka panjang akibat kolonialisme. Penjajahan tidak hanya merampas rempah-rempah, tetapi juga meluluhlantakkan sendi-sendi politik, budaya, hingga identitas bangsa.
Ketua Perkumpulan Pendopo Semar Nusantara, Uny Saputra, menilai sejarah VOC seharusnya tidak hanya dipelajari sebagai cerita masa lalu, melainkan juga dijadikan cermin kritis terhadap kondisi bangsa hari ini.
“VOC adalah wajah kapitalisme paling telanjang yang pernah bercokol di bumi Nusantara. Ironisnya, setelah ratusan tahun merdeka, bangsa ini masih mewarisi pola yang sama, sumber daya kita tetap jadi rebutan, rakyat tetap jadi korban. Bedanya, dulu asing yang menjajah, kini justru negara sendiri yang membiarkan penjajahan gaya baru lewat korporasi besar,” tegas Uny.
Menurutnya, bangsa ini terjebak dalam lingkaran yang mirip dengan zaman kolonial. Jika dahulu Belanda menguasai rempah-rempah, kini kekayaan tambang, hutan, dan laut dikuasai oleh segelintir kelompok dengan restu negara.
“Sejarah VOC itu jelas pelajaran pahit. Tapi apa negara belajar? Kita lihat, petani kita terpinggirkan, nelayan miskin di laut sendiri, tanah dirampas atas nama investasi. Apakah ini bukan bentuk VOC modern? Bedanya, kini ada bendera merah putih yang berkibar di atas penderitaan rakyat,” imbuhnya.
Uny menegaskan, bangsa Indonesia tidak boleh terjebak hanya menjadikan sejarah sebagai romantisme. Lebih penting, sejarah harus menggelorakan semangat untuk menuntut keadilan dan memastikan kedaulatan rakyat di atas segalanya.
“Kalau negara tidak berani menegakkan kedaulatan ekonomi dan melindungi rakyat kecil, maka kita hanya mewarisi semangat budak dari masa VOC. Dan itu artinya, kita masih bangsa yang dijajah, meski tanpa senapan dan meriam,” pungkasnya.
Sejarah VOC dengan demikian bukan sekedar catatan usang, melainkan peringatan keras. Bahwa kemerdekaan sejati hanya bisa terwujud jika bangsa ini berani keluar dari bayang-bayang kolonialisme lama dan menolak penjajahan baru dalam segala bentuknya. (Rony//NB)









