Skip to content
29/07/2026
  • Disclaimer
  • EnterNews
  • Home
  • Kemitraan
  • Kode Perilaku
  • Pedoman Siber
  • Redaksi
  • Terms & Conditions
  • Visi dan Misi
cropped-cropped-cropped-cropped-IMG-20250720-WA0006-1.jpg

Info Terkini Seputar Banyuwangi dan Sekitarnya

Primary Menu
  • Disclaimer
  • EnterNews
  • Home
  • Kemitraan
  • Kode Perilaku
  • Pedoman Siber
  • Redaksi
  • Terms & Conditions
  • Visi dan Misi
Live
  • Artikel

Uny Saputra: VOC Sudah Tiada, Tapi Penjajahan Gaya Baru Masih Hidup di Negeri Sendiri

Redaksi 20/08/2025 3 minutes read

Bagikan ini:

  • Tweet
  • Lagi
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Postingan
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
IMG_20250811_115037 (1)

Foto: Ketua Perkumpulan Pendopo Semar Nusantara, Uny Saputra. (Doc.Ron).

Post Views: 630

BANYUWANGI – Sejarah bukan sekedar catatan masa lalu, melainkan cermin perjalanan panjang sebuah bangsa. Salah satu bab penting dalam sejarah Indonesia adalah hadirnya VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie), perusahaan dagang Belanda yang resmi berdiri pada 20 Maret 1602.

Didirikan dengan modal awal 6,5 juta gulden, VOC mendapat hak istimewa dari pemerintah Belanda untuk berdagang, berperang, membuat perjanjian, hingga mendirikan koloni di Hindia Timur selama 21 tahun. Kehadiran VOC tidak lepas dari ambisi Belanda merebut dominasi perdagangan rempah-rempah dari Portugis dan Spanyol, yang saat itu menguasai jalur perdagangan dunia.

Dengan kekuatan diplomasi, monopoli, hingga kekerasan militer, VOC berhasil menguasai perdagangan cengkih, pala, lada, dan kayu manis di kepulauan Indonesia. Pada puncak kejayaannya, VOC bahkan diakui sebagai salah satu perusahaan dagang terbesar dan terkuat di dunia pada abad ke-17 dan ke-18.

Namun, di balik catatan sejarah tersebut, bangsa Nusantara sejatinya tengah menanggung luka panjang akibat kolonialisme. Penjajahan tidak hanya merampas rempah-rempah, tetapi juga meluluhlantakkan sendi-sendi politik, budaya, hingga identitas bangsa.

Ketua Perkumpulan Pendopo Semar Nusantara, Uny Saputra, menilai sejarah VOC seharusnya tidak hanya dipelajari sebagai cerita masa lalu, melainkan juga dijadikan cermin kritis terhadap kondisi bangsa hari ini.

“VOC adalah wajah kapitalisme paling telanjang yang pernah bercokol di bumi Nusantara. Ironisnya, setelah ratusan tahun merdeka, bangsa ini masih mewarisi pola yang sama, sumber daya kita tetap jadi rebutan, rakyat tetap jadi korban. Bedanya, dulu asing yang menjajah, kini justru negara sendiri yang membiarkan penjajahan gaya baru lewat korporasi besar,” tegas Uny.

Menurutnya, bangsa ini terjebak dalam lingkaran yang mirip dengan zaman kolonial. Jika dahulu Belanda menguasai rempah-rempah, kini kekayaan tambang, hutan, dan laut dikuasai oleh segelintir kelompok dengan restu negara.

“Sejarah VOC itu jelas pelajaran pahit. Tapi apa negara belajar? Kita lihat, petani kita terpinggirkan, nelayan miskin di laut sendiri, tanah dirampas atas nama investasi. Apakah ini bukan bentuk VOC modern? Bedanya, kini ada bendera merah putih yang berkibar di atas penderitaan rakyat,” imbuhnya.

Uny menegaskan, bangsa Indonesia tidak boleh terjebak hanya menjadikan sejarah sebagai romantisme. Lebih penting, sejarah harus menggelorakan semangat untuk menuntut keadilan dan memastikan kedaulatan rakyat di atas segalanya.

“Kalau negara tidak berani menegakkan kedaulatan ekonomi dan melindungi rakyat kecil, maka kita hanya mewarisi semangat budak dari masa VOC. Dan itu artinya, kita masih bangsa yang dijajah, meski tanpa senapan dan meriam,” pungkasnya.

Sejarah VOC dengan demikian bukan sekedar catatan usang, melainkan peringatan keras. Bahwa kemerdekaan sejati hanya bisa terwujud jika bangsa ini berani keluar dari bayang-bayang kolonialisme lama dan menolak penjajahan baru dalam segala bentuknya. (Rony//NB)

Related Posts:

  • IMG-20251009-WA0128
    Terbukti HGU PT Bumisari Tidak Berada di Desa Pakel…
  • Pedoman Siber
    Pedoman Siber
  • IMG-20260519-WA0091
    Polresta Banyuwangi Berhasil Bongkar Dugaan Biro…
  • IMG_20250811_115037 (1)
    Madrasah di Banyuwangi Diduga Jadikan LKS Ladang Dagang
  • IMG_20250816_203646
    Slametan Kemerdekaan di Dusun Krajan Desa Tampo, Doa…
  • Kode Perilaku
    Kode Perilaku
  • IMG-20250728-WA0132
    Berlangsung Sengit, Pebalap Belanda Juara Etape…
  • IMG_20250807_163810
    Rokok Ilegal Ancam Penerimaan Negara dan…
  • IMG-20250729-WA0134
    PT BSI Gandeng FPIK Universitas Brawijaya, Perkuat…
  • IMG_20250728_143735
    Warga Dusun Krajan Swadaya Rawat LPJU, Uny Saputra:…

About The Author

Admin

Redaksi

Profesionalitas Tanpa Batas

See author's posts

Menyukai ini:

Suka Memuat...

Terkait

Post navigation

Previous: Kodim 0825/Banyuwangi Gelar Penyuluhan Bahaya Narkoba
Next: Remaja Masjid Baitul Salam Ikut Karnaval HUT RI ke 80, Warga Dibawa ke Nuansa Tahun 70 an.

Related Stories

IMG_20260620_130653~2
  • Artikel
  • Banyuwangi
  • Opini

Ketiadaan Aturan Tata Ruang Picu Polemik Galian C di Banyuwangi, Aparat Kepolisian Jadi Korban Benturan

Redaksi 29/06/2026 0
IMG-20260420-WA0043
  • Artikel
  • Banyuwangi
  • Peristiwa

Aneka Ragam Kepentingan Surat Edaran, Ketua Foskapda: Cabut Karena Merugikan Masyarakat

Redaksi 21/04/2026
IMG_20260409_212724
  • Artikel

PIMPINAN DPRD TIDAK DIHARGAI, SURAT EDARAN SEKDA BANYUWANGI TETAP JALAN

Herman 10/04/2026
  • Disclaimer
  • EnterNews
  • Home
  • Kemitraan
  • Kode Perilaku
  • Pedoman Siber
  • Redaksi
  • Terms & Conditions
  • Visi dan Misi
  • Disclaimer
  • EnterNews
  • Home
  • Kemitraan
  • Kode Perilaku
  • Pedoman Siber
  • Redaksi
  • Terms & Conditions
  • Visi dan Misi
Copyright © Narasi Banyuwangi 2025 | MoreNews by AF themes.
%d