Foto: Seluruh Staf dan Kadus Desa Plampangrejo Bersih - bersih Sampah di Sepanjang Jalan Kabupaten. (Rony//NB).
BANYUWANGI – Semarak kirab budaya dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-80 di Desa Plampangrejo, Kecamatan Cluring, menyisakan pemandangan yang memprihatinkan. Usai gelaran karnaval dengan 32 sound system berdaya besar atau dikenal dengan “sound horeg”, sepanjang jalan kabupaten berubah menjadi lautan sampah.
Plastik bekas bungkus makanan, kantong kresek, serta sampah organik lainnya berserakan di tepi jalan, meninggalkan jejak tak sedap dari ribuan pengunjung dan pedagang kaki lima yang abai terhadap kebersihan.
“Ribuan kantong plastik dari pedagang yang tidak bertanggung jawab mengotori tepi jalan. Ini jelas merusak estetika dan mencemari lingkungan,” ujar Kepala Desa Plampangrejo, Yudi Wiyono.
Melihat kondisi itu, pada Rabu (05/08/2025), pemerintah desa langsung bergerak cepat. Staf desa bersama seluruh kepala dusun dikomandoi langsung oleh Kades Yudi Wiyono melakukan aksi bersih-bersih, memungut sampah satu per satu demi memulihkan kondisi jalan agar kembali bersih dan nyaman dilalui masyarakat.
“Kami tidak ingin euforia perayaan kemerdekaan justru berujung pada kerusakan lingkungan. Maka kami bersihkan segera, terutama sampah dari pedagang,” tegas Yudi.
Sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi tentang Pengelolaan Sampah, setiap kegiatan yang berpotensi menghasilkan sampah wajib menyediakan fasilitas kebersihan, termasuk tempat sampah sementara. Sayangnya, kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan usai kegiatan masih rendah.
Menanggapi hal itu, Ketua Perkumpulan Pendopo Semar Nusantara, Uny Saputra, angkat bicara. Ia menilai budaya gotong royong harus dibarengi dengan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat, terutama pelaku usaha kecil dan pengunjung event.
“Kegiatan budaya semestinya mendidik, bukan malah meninggalkan sampah. Ini soal mental. Perlu pembiasaan sejak dini bahwa mencintai budaya juga berarti mencintai lingkungan,” tegas Uny.
Ia juga mendorong pemerintah desa ke depan lebih tegas dalam mengatur zona PKL dan mewajibkan setiap pedagang membawa kantong sampah pribadi.
Kirab budaya seharusnya menjadi warisan semangat kemerdekaan dan pelestarian kearifan lokal. Namun, semangat itu akan kehilangan makna jika tidak dibarengi dengan tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.
Diketahui, panitia pelaksana kirab budaya ini dibentuk dari kelompok pemuda Desa Plampangrejo yang tergabung dalam organisasi kemasyarakatan setempat. Semangat mereka dalam merayakan kemerdekaan patut diapresiasi, namun ke depan diharapkan juga dibarengi dengan pengelolaan acara yang lebih ramah lingkungan. (Ron//NB)










